Artis dan Selebgram Hanna Arinawati Raih Penghargaan Dosen Terbaik S2 Magister Kenotariatan FHUI

Suaragenz - Hanna Arinawati, S.H., M.Kn. kembali menjadi sorotan setelah meraih penghargaan sebagai dosen terbaik untuk Program Studi S2 Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sosoknya dikenal luas sebagai artis, selebgram, public speaker dan content creator yang aktif di media sosial, namun capaian ini menegaskan bahwa Hanna juga serius di jalur akademik. Penghargaan tersebut berdasarkan EDOM, yaitu evaluasi dosen oleh mahasiswa, sehingga penilaiannya datang dari mereka yang mengikuti perkuliahan dan merasakan langsung cara mengajar Hanna.

Bagi banyak orang, prestasi ini terasa istimewa karena menunjukkan bahwa popularitas tidak menjadi satu-satunya cerita. Di lingkungan kampus, kualitas pengajaran dinilai dari hal-hal yang sederhana tetapi nyata, mulai dari cara dosen menyampaikan materi, konsistensi perkuliahan, kejelasan tugas, sampai kemampuan membangun suasana kelas yang nyaman. Karena itu, penghargaan versi EDOM sering dianggap sebagai cermin pengalaman mahasiswa di ruang kelas.

Hanna sendiri dikenal sebagai pengajar yang berusaha membuat materi terasa mudah dipahami. Melalui powerpoint materi dan video pengajaran yang menarik. Ia tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak mahasiswa melihat konteks dan contoh yang dekat dengan dunia profesional. Dalam salah satu kesempatan, Hanna menyampaikan bahwa menjadi mahasiswa harus seimbang, pintar secara akademik tetapi memiliki moral dan etika yang baik adalah yang utama. Gelar dan pendidikan harus menjadikan kita manusia yang bermartabat dan menghargai orang lain. Hanna juga percaya, bahwa kegagalan itu bukan akhir, tetapi kesuksesan yang tertunda,” ucap Hanna, mengulang prinsip yang sering ia bawa dalam forum-forum pengembangan diri.

Perjalanan Hanna hingga menjadi dosen tidak terjadi begitu saja. Ia menempuh pendidikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude dan disebut sebagai lulusan terbaik program sarjana pada 2022. Setelah itu, ia melanjutkan studi Magister Kenotariatan di FHUI pada 2022 hingga 2024. Selama masa studi pascasarjana, Hanna sempat menjadi asisten dosen. Ia pernah menceritakan bahwa pengalaman tersebut menjadi pintu masuk yang membentuk langkahnya sebagai pengajar. “Saat S2, aku jadi asisten dosen, dan dari situ mulai terbuka peluang untuk jadi dosen,” ujarnya.

Sejak 2024, Hanna tercatat sebagai staf pengajar di FHUI pada bidang studi Hukum Islam dan Hukum Adat, sekaligus mengajar di lingkungan Program Studi S2 Magister Kenotariatan. Hanna mengajar Asas-Asas Hukum Adat (S1), Hukum Kekeluargaan dan Kewarisan Adat (S1), Aspek Kenotariatan dalam Hukum Adat (S2) dan Klinik Akta (S2). Ia melihat perannya sebagai dosen bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membangun cara berpikir mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan. Bagi Hanna, proses belajar di kelas harus memberi ruang bagi mahasiswa untuk bertanya dan berdiskusi. “Aku ingin kelas itu hidup. Mahasiswa jangan takut salah, karena dari salah kita belajar,” katanya dalam sebuah kesempatan.

Di luar kampus, Hanna tetap aktif sebagai public figure. Ia dikenal sebagai selebgram, content creator, model, dan bintang iklan. Ia juga pernah terlibat dalam proyek shooting untuk sejumlah brand seperti Google, KAO Indonesia, Ria Miranda, Sentosa Senayan, dan Acnes Skincare. Meski begitu, Hanna menekankan bahwa kesibukan di luar kampus tidak boleh mengganggu tanggung jawab utamanya sebagai pengajar. “Boleh punya banyak peran, tapi jangan sampai lupa yang paling penting, tetap bertanggung jawab,” ucapnya.

Keterampilan komunikasi Hanna yang terasah di dunia kreatif juga menjadi nilai tambah saat ia mengajar. Kebiasaannya berbicara di depan kamera dan audiens membuat penyampaian materinya lebih jelas dan terstruktur. Hanna pun dikenal sering tampil sebagai pembicara dalam berbagai forum yang membahas pengembangan diri dan kesehatan mental. Ia terbuka bercerita tentang masa remajanya yang tidak selalu mudah, termasuk pernah mengalami perundungan. Dari pengalaman itu, ia membangun pesan yang konsisten dan sederhana. “Hidup itu seperti aksi reaksi. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai,” katanya.

Pesan-pesan seperti ini kemudian terasa dekat bagi banyak mahasiswa. Penghargaan dosen terbaik versi EDOM menjadi bukti bahwa Hanna mampu membawa energi positif itu ke ruang kelas. Ia dinilai berhasil menciptakan suasana belajar yang membuat mahasiswa lebih percaya diri dan lebih berani menyampaikan pendapat. Bagi mahasiswa, dosen yang komunikatif sering terasa lebih dekat karena komunikasi berjalan dua arah dan mahasiswa merasa dihargai.

Prestasi Hanna juga memberi pesan yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Banyak anak muda merasa harus memilih satu jalur saja, apakah fokus akademik atau fokus karier kreatif. Hanna menunjukkan bahwa dua hal itu bisa berjalan bersama, asalkan ada disiplin dan kesungguhan menjaga kualitas. Ia membuktikan bahwa popularitas tidak harus mengalahkan profesionalitas, dan kesibukan tidak harus menurunkan standar kerja.

Di akhir, penghargaan dosen terbaik yang diraih Hanna Arinawati menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia menambah daftar pencapaian yang memperkuat citranya sebagai sosok muda yang tidak hanya tampil menarik, tetapi juga bekerja keras dan serius di bidang yang ia pilih. “Setiap orang itu istimewa di jalannya masing-masing,” ujar Hanna. “Yang penting, tetap jadi diri sendiri, kerja keras, dan menggali versi terbaik dari diri kita.”

Previous Post Next Post